Langit senja semakin
kelam. Jalanku, semakin pelan. Hingga berhenti pada suatu jalan. Sunyi. Aku
tertegun. Tak sanggup lagi kaki melangkah. Pikiranku melayang entah kemana.
Menelusuri satu demi satu ingatan yang tersisa. Ada bulir-bulir yang membasahi
kedua pipiku kini.
Lalu aku terus
berjalan dan terus berjalan. Tanpa ada arah tujuan. Aku begitu tertekan dengan
semua ini. Tidak ada yang ingin mengerti tidak ada yang ingin ambil peduli.
Betapa sedihnya hatiku saat ini. Bulir-bulir itu berubah menjadi sesegukan.
Badan ini bergetar. Menahan tangis yang tertahan.
Aku tak ingin
menghujat siapapun saat ini. Hanya ingin menangis. Itu saja. Menangis. Ditemani
cahaya yang mulai tertelan malam hitam dan kelam. Dan ternyata kini aku berada
pada ujung taman.
Tidak ada yang
melintas di pikiranku. Aku yang tak mampu menahan semua gejolak hatiku yang
sudah amburadul. Hingga sebuah bunyi mulai menyurutkan dan menenangkan hatiku.
Bunyi yang menunjukkan pesan singkat yang bertuliskan, "tenanglah dalam malammu, berkeluh kesahlah kepada
tuhanmu, meneteskan air mata dan bermanja ria.tenanglah sahabatku. Aku selalu
bersamamu. Semampuku"
Lalu terdengar derap
langkah lembut berirama. Ku tolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Ada dia di
sana. Seorang yang padanya aku dapat berkeluh kesah. Seorang yang padanya aku
dapat melepas semua emosi. Seorang yang
selalu ada untukku. Bila raga tak mampu. Maka hati yang berbicara.
Menggenggam
tanganku. Sambil bertanya dengan nada yang tak melukiskan kekhawatiran, tapi
lebih tepatnya menenangkan "ada apa?" aku tak mampu berbicara.
Lidahku kelu. Otot-ototku mati rasa. Ku tatap matanya. Mencari ketenangan
disana. Bahwa aku aman bersamanya. Bahwa dia benar-benar bersamaku saat ini.
Dia tersenyum.
Padahal aku tak menjawab tanyanya. Lalu dia berkata "tidak apa-apa.
Jangan cemas. Saat ini aku bersamamu kan?" aku menganggukkan kepalaku.
Lalu dia membawaku ke sebuah bangku taman cukup panjang. Kami duduk disana. Aku
menyandarkan kepalaku pada bahunya. Kini tangisku sudah surut.
Tanpa melepas
genggamannya dia berkata " sahabatku, janganlah kamu ikuti rasa
sedihmu. Itu hanya sementara. Sedetik
kamu sedih, sedetik kamu bingung, sedetik kemudian kamu sedih lagi dan tidak
tertutup kemungkinan sedetik lagi kamu
bahagia " aku menyambut perkataannya dengan mengangguk pelan.
Tak tau berapa lama
kemudian aku luruskan badanku. Mengusap peluh yang telah bercampur dengan sisa
air tangisanku. Dia menoleh kepadaku, tersenyum dan kembali berkata padaku yang
diam saja sedari tadi tanpa sepatah katapun " ayo, kita ke toko seberang.
Aku traktir es krim deh.. "
Duhai tuhan….kini
aku tersenyum. Hilang sudah gelisah dan sirna sudah mumet di kepalaku saat ini.
Ku tatap dia sembari berkata " terima kasih " dengan senyum termanisku
diantara kusutnya wajahku. Dilanjutkan satu kalimat, hanya di benakku saja "
aku sayang padamu, sahabatku. Terima kasih atas pengertiannya "