Jumat, 25 Mei 2012

sebentar... saja...

Aku bergetar…
Bergetar hebat  malam ini.
Lututku bergoyang tak tentu arah.
Aku begitu kalut tentang semua ini.
Peganganku sedang terlelap.
Bersama malam indah dengan butiran indah disudut matanya.
Aku takut, kini aku sendiri.
Ingin aku berteriak.
Meraung pada malam gelap gempita.
Temani aku…
Temani aku sebentar saja…
Aku mohon…
Sebentar saja…
Sebentar…saja…
Aku takut, aku takut, aku takut…
Aku… Memeluk lutut di ujung ruangan.
Bersama tatapan tajam para pengerat.

Puisi : " korannya... "

Panas, panas kaki ini.
Melepuh diantara kulit yang mulai menebal.
Panas, panas tubuh ini.
Gerah diantara kulit yang mulai mengkilat oleh keringat.
Keringat di tengah hari buta.
Korannya bu…
Korannya pak…
Korannya kak…
Dingin, dingin malam ini.
Angin dingin menusuk sampai ke tulang.
Malam hitam sunyi kelam.
Deru mesin melaju kencang tak iba.
Korannya bu…
Korannya pak…
Korannya kak…
Kaki-kaki kecil tetap berlari.
Bersama teriak yang tak mampu memecah sunyi.
Di lampu merah kuning hijau bersama sepi sendiri.

Jumat, 18 Mei 2012

PUISI : "ku ku ku diriku"

lidahku kelu mulutku gagu

mataku sayu tatapanku beradu

senyumku terpaku kepalaku tertunduk malu-malu

wajahku kuyu pikiranku ragu

kakiku kaku langkahku satu-satu

menuju sebuah buku

usang berisi rahasia diriku





Kamis, 17 Mei 2012

CERPEN : Tangis yang Surut Perlahan


Langit senja semakin kelam. Jalanku, semakin pelan. Hingga berhenti pada suatu jalan. Sunyi. Aku tertegun. Tak sanggup lagi kaki melangkah. Pikiranku melayang entah kemana. Menelusuri satu demi satu ingatan yang tersisa. Ada bulir-bulir yang membasahi kedua pipiku kini.

Lalu aku terus berjalan dan terus berjalan. Tanpa ada arah tujuan. Aku begitu tertekan dengan semua ini. Tidak ada yang ingin mengerti tidak ada yang ingin ambil peduli. Betapa sedihnya hatiku saat ini. Bulir-bulir itu berubah menjadi sesegukan. Badan ini bergetar. Menahan tangis yang tertahan.

Aku tak ingin menghujat siapapun saat ini. Hanya ingin menangis. Itu saja. Menangis. Ditemani cahaya yang mulai tertelan malam hitam dan kelam. Dan ternyata kini aku berada pada ujung taman.

Tidak ada yang melintas di pikiranku. Aku yang tak mampu menahan semua gejolak hatiku yang sudah amburadul. Hingga sebuah bunyi mulai menyurutkan dan menenangkan hatiku. Bunyi yang menunjukkan pesan singkat yang bertuliskan, "tenanglah dalam malammu, berkeluh kesahlah kepada tuhanmu, meneteskan air mata dan bermanja ria.tenanglah sahabatku. Aku selalu bersamamu. Semampuku"

Lalu terdengar derap langkah lembut berirama. Ku tolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Ada dia di sana. Seorang yang padanya aku dapat berkeluh kesah. Seorang yang padanya aku dapat melepas semua emosi.  Seorang yang selalu ada untukku. Bila raga tak mampu. Maka hati yang berbicara.

Menggenggam tanganku. Sambil bertanya dengan nada yang tak melukiskan kekhawatiran, tapi lebih tepatnya menenangkan "ada apa?" aku tak mampu berbicara. Lidahku kelu. Otot-ototku mati rasa. Ku tatap matanya. Mencari ketenangan disana. Bahwa aku aman bersamanya. Bahwa dia benar-benar bersamaku saat ini.

Dia tersenyum. Padahal aku tak menjawab tanyanya. Lalu dia berkata "tidak apa-apa. Jangan cemas. Saat ini aku bersamamu kan?" aku menganggukkan kepalaku. Lalu dia membawaku ke sebuah bangku taman cukup panjang. Kami duduk disana. Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya. Kini tangisku sudah surut.

Tanpa melepas genggamannya dia berkata " sahabatku, janganlah kamu ikuti rasa sedihmu.  Itu hanya sementara. Sedetik kamu sedih, sedetik kamu bingung, sedetik kemudian kamu sedih lagi dan tidak tertutup kemungkinan sedetik lagi  kamu bahagia " aku menyambut perkataannya dengan mengangguk pelan.

Tak tau berapa lama kemudian aku luruskan badanku. Mengusap peluh yang telah bercampur dengan sisa air tangisanku. Dia menoleh kepadaku, tersenyum dan kembali berkata padaku yang diam saja sedari tadi tanpa sepatah katapun " ayo, kita ke toko seberang. Aku traktir es krim deh.. "

Duhai tuhan….kini aku tersenyum. Hilang sudah gelisah dan sirna sudah mumet di kepalaku saat ini. Ku tatap dia sembari berkata " terima kasih " dengan senyum termanisku diantara kusutnya wajahku. Dilanjutkan satu kalimat, hanya di benakku saja " aku sayang padamu, sahabatku. Terima kasih atas pengertiannya "







kecolongan

dua kali! dua kali ra kecolongan. pada orang yang sama. duhai tuhaaan, apa nak saye buat ni? :(

malam hari..... saat itu adik ra mengabarkan bahwa ra dipanggil ayah, penting katanya. hati sedikit was-was. apa pasal ni? biasanya ayah yang panggil, tak pakai perantara. ini kox pakai perantara segala. lalu bertanya lah kepada adik tercinta tu. "ada orang ke dik? ada tamu ke?" menjawab lah dia tu " tak de kak." kembali meyakinkan " betul dik? tak da tamu? " dijawab lagi " iya kak.. tak de"

dengan tampilan seadanya, tampilan sehari-hari di rumah, ra turun ke lantai bawah, karena kamar ra di lantai atas. mempercepat langkah sambil menerka-nerka. ada apa ni? agaknya penting betul. lalu, saat badan ini berbelok ke ruang keluarga...... Masya Allah. Astaghfirullah. ada tamu. seorang lelaki. kira-kira kurang dari 5 detik dia sempat menatapku. dengan tanpa penutup aurat bagi rambutku.  bukan main! ra terkejut. balik kanan. sambil menyebut nama Allah. berlari sekencang-kencangnya menuju kamar.

nak menangis rasanya. bagaimana ini?! bagaimana ini?! sudah terlihat! sudah terlihat! ra tak menyalahkan adik yang tak tau kalau ada tamu. agaknya dia datang setelah adik ra memanggil ra ke lantai atas. 

ayah menyahuti nama ra. duhai Allah..... kuatkan lah hati ra. lalu ra ambil jilbab ra. turun. dan ternyata ada hal yang ingin ditanyakan. bisa dibilang tak begitu penting. hati ini benar-benar tak tenang. bagaimana mungkin, kini berdiskusi dengan orang yang tadi membuat jantung ra serasa mau copot!
bukan main :(

siang hari.... terjaga dari tidur singkat. teringat bahwa hp ra tinggal di lantai bawah. sekali lagi hati ra was-was. apa pasal ni? masa di rumah sendiri merasa begitu. tak pa, mudah-mudahan tak ada apa-apa lagi.

lalu ra langkahkan kaki menuju anak tangga. baru sebahagian terlangkahi. ternyata...... ada dia lagi!  Bledarr!!! ra balik kanan lagi. menjauh darinya :( :( apaaa lah ... di rumah sendiri pun tak aman! ya Allah. kuatkan hamba. untuk menjaga apa yang mesti dijaga. untuk menutupi apa yang mesti ditutupi.






Rabu, 16 Mei 2012

PUISI : BISA INGIN INGIN BISA

Seperti tetes air yang tak ingin tinggalkan hujan
Seperti semilir angin yang tak ingin tinggalkan awan
Seperti lirik yang tak ingin tinggalkan angan
Seperti tangan yang tak bisa tinggalkan kepalan
Seperti langkah yang tak bisa tinggalkan jalan
Seperti tarian yang tak bisa tinggalkan lantunan
Seperti bisa tapi tak ingin
Seperti ingin tapi tak bisa
Bisa ingin
ingin bisa
Melukis senyuman





About Me

Foto Saya
dearashi satou
lahir sebagi anak ke 2 dari 4 bersaudara, jenjang pendidikan di MAN 2 MODEL PEKANBARU di lokal SAINS 2..rada tomboy sih, tapi smenjak beranjak remaja dah mulai sadar akan kodrat, alhamdulillah..berharap jadi yang terbaik untuk ortu. masih banyak kekurangan yang dimiliki..jadi intinya.. saya adalah manusia biasa yang tidak sempurna tapi cinta untuk ALLAH SWT,ortu,keluarga,temen" sangat sempurna...
Lihat profil lengkapku

teman-teman bloger